Published On: Rab, Mar 29th, 2017

THE RED TURTLE (PENYU MERAH)

Awan hitam terbentang luas diatas lautan lepas, badai datang membuat gelombang besar ditengah lautan. Seorang pria dengan perahu tuanya terhempas jauh oleh badai. Hingga akhirnya terdampar disebuah pulau sepi tanpa kehidupan. Pulau nan jauh dari peradaban banyak orang,  berada di arus yang tenang tanpa ombak, berpasir putih bersih, penuh akan hutan bakau dan air laut yang jernih.

Matahari terbit membuat pria tersebut membuka matanya dan sadar bahwa ia terbawa oleh badai malam tadi. Pria ini bernama Syarik, ia merupakan nelayan dari sebuah pulau yang berada di selatan, ia terdampar dipulau kosong dan berambisi untuk mencari tahu tentang pulau tersebut dengan mengelilinginya, tetapi ia tidak menemukan apapun. Ia sedih melihat perahunya hancur, tidak ada penghuni pulau, tidak ada yang bisa ia makan dan ingin kembali ke rumah yang ia rindukan. Hari mulai gelap, Syarik mencoba untuk mencari makanan dengan memanjat berbagai pohon. Dan akhirnya ia menemukan pohon kelapa dan sumber mata air bersih.

Bulan mulai muncul ditengah malam yang sangat dingin menemani pria yang melamuni jalan keluar untuk pergi dari pulau tersebut. Keesokan harinya, Syarik mengumpulkan bambu-bambu yang berserakan di tengah hutan untuk dirakit menjadi sebuah rakitan besar sebagai pengganti perahunya untuk pulang kerumah. Mulai dari matahari terbit hingga panas terik, ia membuat rakitan. Dan akhirnya sebuah rakitan telah selesai ia buat. Kemudian, ia membawanya ke tepi pantai dan menaiki rakitannya di tengah lautan. Ia sangat senang bisa meninggalkan pulau tersebut.

Ditengah perjalanannya. Rakitannya hancur tiba-tiba dan membuat Syarik terkejut, karena tidak ada apapun baik hewan laut yang lewat didekat rakitannya. Alhasil, ia kembali lagi ke pulau itu dengan rasa kesal. Hari berikutnya, ia melakukan hal yang sama, ia membuat rakitan yang lebih  besar dari yang pertama. Dan hal yang sama terulang kembali. Rakitannya hancur ditengah perjalanan. Dan ia kembali lagi kedua kalinya ke pulau tersebut. Ia bertanya-tanya. Apakah rakitannya tidak kuat menopang karena kurang besar, atau ada sesuatu yang mengganggunya. Untuk yang ketiga kalinya ia membuat dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Ia merasa sangat puas dan senang. Ia percaya bahwa kali ini, rakitannya tidak akan hancur ditengah perjalannnya.

Ketika ia sudah berada ditengah lautan lepas. Tiba-tiba ada yang menghentakan rakitannya dari bawah laut.  Kemudian, ia berenang kedalam laut dan melihat keadaan disana. Tetapi ia tidak melihat apapun. Rasa penasaran terus bertanya pada dirinya. Lalu, ia kembali ke atas rakitannya, dan hentakan kembali terasa hingga hancur. Pria tersebut sangat kesal dan  langsung berenang kedasar lautan dan ternyata ada seekor penyu merah yang sangat besar. Iya yakin bahwa yang mengganggunya selama ini adalah penyu merah tersebut. Dengan rasa bingung dan sangat kesal ia kembali ke pulau sunyi dan kosong itu. Kepiting-kepiting kecil yang tinggal dibawah pasir putih memperhatikan Syarik, mengapa ia pergi kemudian datang lagi untuk ketiga kalinya. Syarik marah, dan berteriak kencang dipulau sunyi tersebut.

Malam pun tiba, penyu merah besar mendatangi pulau sunyi yang dihuni oleh pria malang yang terdampar. Syarik melihat kedatangan penyu merah besar dengan senang karena ia akan mencoba untuk membuat penyu tersebut tidak kembali lagi ke laut dan tidak mengganggunya keluar dari pulau itu. Ia langsung membawa bambu besar dan ia membalikan badan penyu merah itu agar tidak bisa bergerak. Kemudian “Prak..” ia menginjak perut penyu merah itu dan memukulnya dengan bambu besar. Ia merasa puas dengan yang dilakukannya. Setelah itu ia kembali membuat rakitan untuk esok pagi. Lama memperhatikan penyu merah, Syarik merasa kasihan dengan penyu merah. Ia menyesal telah memperlakukan seburuk itu dan membuat penyu itu tidak sadar dalam semalam.

Pagi pun tiba. Ia merawat penyu tersebut agar sadar kembali, dengan memberinya air bersih, membuatkannya rumah dari dedaunan dan bambu. Kemudian Syarik pergi untuk mencari makan. Setelah ia melihat penyu merah itu. Ia terkejut, karena penyu merah berubah menjadi seorang wanita cantik dengan rambut panjang berwarna merah, hidung mancung layaknya seorang putri. Syarik sangat bingung apa yang membuat penyu itu berubah menjadi seorang wanita. Dan beberapa menit kemudian yang ada hanya tempurungnya saja. Lalu, Syarik penasaran dan  mencari wanita penyu merah disekeliling pulau. Kemudian, ia menemukan wanita penyu merah itu sedang berenang di sumber air bersih sambil tersenyum kepadanya. Wanita itu terkejut karena ia tidak menggunakan pakaian. Lalu Syarik memberikan bajunya kepada wanita tersebut dan akhirnya bajunya pun dipakai. Wanita penyu itu berjalan menuju tepi pantai dan membawa tempurungnya ke tengah lautan. Pria itu mengikuti wanita tersebut. Kiranya wanita itu akan pergi, padahal ia membuang tempurungnya ke lautan lepas. Tak lama, pria tersebut merasa bersalah dan ia juga memutuskan untuk tidak kembali pulang dan membuang rakitannya ke lautan lepas. Akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta dan hidup bersama dipulau sunyi itu.

Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki berambut merah keriting dan sangat lucu, yang diberi nama Mun. Kehidupan dipulau itu sudah tidak asing bagi mereka. Bermain, mencari makan dan segalanya bisa mereka lakukan dengan terbiasa. Membuat baju pun, mereka menggunakan kulit singa laut yang sudah mati. Hari demi hari, wanita penyu merah tersebut menceritakan tentang kisah cintanya dengan ayahnya dan memberitahu bahwa dia adalah seorang penyu merah. Anak tersebut langsung mengarungi lautan luas dengan banyak penyu merah. Penyu-penyu merah tersebut melindungi keluarga mereka dipulau itu.

Beberapa taun kemudian. Kehidupan disana masih sama. Yang berbeda hanyalah Mun yang sudah beranjak dewasa dan wanita penyu merah juga Syarik yang semakin tua. Suasana gelap disore hari tiba, burung-burung beterbangan dengan risau, angin bertiup kencang, air laut surut dengan cepat. Tiba-tiba ombak besar datang dari tengah lautan dan akhirnya terjadi tsunami yang menerjang pulau sunyi tersebut. Syarik, istrinya dan Mun terbawa arus dan terpencar. Pagi pun tiba masih dalam suasana kacau. Pulau terlihat kotor, bambu berserakan dimana-mana. Mereka saling mencari. Mun mencari ibu dan ayahnya (Syarik). Kemudian ia menemukan ibunya berada di tengah-tengah tumpukan dedaunan. Ibunya meminta agar ia mencari ayahnya. Ternyata ayahnya tidak ada dipulau itu.

Mun meminta bantuan penyu-penyu merah yang ada dilaut untuk membantu mencari ayahnya. Ia berteriak di tengah lautan lepas dan teriakan itu dibalas oleh keberadaan ayahnya. Akhirnya mereka bertemu. Disatu sisi. Mun melihat dari kejauhan ada pulau yang seolah-olah mengajak ia untuk kesana. Ia berpaling dan langsung membawa Syarik ke pulau sunyi dengan bantuan para penyu merah. Akhirnya mereka berpelukan karena selamat dari kejadian tsunami. Hari demi hari Mun semakin dewasa dan memikirkan untuk pergi dari pulau itu. Pada akhirnya, Mun meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk pergi dari pulau tersebut dan berjanji akan kembali. Syarik dan Wanita penyu merah merasa sangat sedih dengan kepergian puteranya.

Berbulan bulan kemudian, Mun belum kembali, hingga titik dimana wanita dan pria itu sudah semakin tua. Mun belum juga menepati janjinya untuk pulang. Malam yang gelap, mendampingi wanita berambut merah dan pria tua itu tidur. Tak lama kemudian, wanita penyu merah menyaksikan Syarik menginggal dunia mendahuluinya. Rasa sedih teramat dalam. Dengan kehilangan anaknya bertaun-taun, dan sekarang ditinggal selamanya oleh pria yang bersamanya dipulau sunyi itu. Wanita itu memegang tangan suaminya sambil menangis. Dan tiba-tiba wanita itu kembali menjadi seekor penyu merah yang besar. Ternyata ketika ia tidak bersama dengan orang yang ia cintai. Ia akan kembali menjadi seekor penyu merah yang besar. Dengan rasa sesal dan sedih yang mendalam. Penyu merah (wanita itu) pergi meninggalkan Syarik yang sudah meninggal dunia dan meninggalkan pulau sunyi yang penuh dengan cerita manis.

Cerita ini mengajarkan kita untuk bersyukur, menerima apapun yang terjadi dalam kehidupan kita dan melewatinya dengan suka cita. Juga mengajarkan kita untuk lebih menepati janji terhadap orang tua dan setia kepada orang-orang yang kita sayangi sampai akhir hayat yang memisahkan. (“AJENG TRIJAYANTI”)

 

About the Author

- Wakil Ketua PWI Sukabumi, Pimpinan Redaksi Sukabumi Pos

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. ajengtrie@yahoo.com berkata:

    terimakasih pak sudah diposting :))))

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>