Published On: Sab, Des 12th, 2015

LEON AGUSTA SENIMAN SANG PENGEMBARA KINI PERGI

SUKABUMI ( Sukabumi Pos On Line ),- Kamis Sepuluh Desember 2015 jam 16.15 di Rumah Sakit Umum Pusat M. Djamil Padang, Allah telah memanggil seorang lelaki yang hidupnya dibaktikan untuk kebudayaan,  dia sang penyair pengembara Leon Agusta, meninggal dunia pada usia 77 tahun karena sakit.

“Banyak kenangan yang tercatat dalam memoriku, meski aku bukan salah satu teman dekatnya almarhum dalam kehidupan berkesenian, tapi banyak kenangan yang sulit kami lupakan semasa beliau masih aktif di Dewan Kesenian Jakarta dan suka nongkrong bersama di TIM “ kenang Robin yang kini aktif di media lokal di Sukabumi menuturkan.

Bagi Robin, Leon Agusta adalah inspirator dalam berkeseniannya semasa dia masih bujangan tiga puluh tahun lalu. Kepergian Leon Agusta sang Penyair Pengembara adalah sangat dirasakan, mengingat beberapa tahun sudah tidak pernah kontak  lagi “ Hampir tiga puluh tahun, saya tidak pernah kontak beliau lagi mengingat saya sudah tidak aktif lagi dibidang kesenian “ jelas Robin yang kini aktif sebagai redaksi pelaksana disalah tabolid terbitan lokal menuturkan ke SP.

Menurut putri Leon, Juli F. Agusta, seperti yang disampaikan kesalah satu media nasional mengatakan, awalnya, sang ayah mengalami sesak napas dan tidak sadarkan diri di rumahnya di kawasan Parak Laweh, Padang, pada Kamis sekitar pukul 02.00. Menjelang subuh, Leon dilarikan ke Rumah Sakit Yos Sudarso. “ Di RS Yos Sudarso masih belum sadar. Paru-parunya tak merespons. Atas segala bantuan dokter, papa dirujuk ke RSUP M. Djamil,” terang Juli

Dari diagnosis dokter, menurut Juli, ayahnya mengalami infeksi paru-paru dan asma. Sebelum meninggal, asma ayahnya kambuh. Namun paru-parunya juga dalam kondisi tidak baik. Juli mengatakan sehari-hari ayahnya tinggal di Jakarta. Namun, sebelas hari lalu, ayahnya minta pulang ke Padang. “Di Padang, kondisi papa mulai tidak sehat. Tapi tak perlu dirawat,” tambah Juli saat dihubungi melalui telpon selulernya.

Leon pernah menjadi guru SGB Bengkalis (1959), pemimpin Bengkel Teater Padang, salah satu kelompok yang merintis jalan teater moderen Indonesia di Padang (1972), dan anggota Dewan Kesenian Jakarta. Ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1976-1977)  kemudian menerbitkan sebuah kumpulan puisi berjudul Di Sudut-sudut New York Itu (1977) dan sebagian sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Leon Agusta  pernah  dipenjara oleh rezim Orde Baru, terkait peristiwa Malari, 1974. Puisi-puisinya sudah diterbitkan dalam sejumlah antologi dan buku tunggal, terakhir Gendang Pengembara, terbit 2012.

Leon Agusta lahir di Sigiran, Nagari Tanjung Sani, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938. Meninggalkan dua orang istri, Lisa Agusta dan Margaret Rose Glade Agusta, serta beberapa orang anak: Tita, Titi, Julia, Oni, Hukla dan Paul Agusta.

Menurut rencana jenazah almarhum akan dimakamkan setelah shalat Jumat, 11 Desember 2015, di pemakaman keluarga istrinya, di kawasan Teluk Kabung, Bungus, Padang.

KISAH BURUNG-BURUNG BEO

Burung beo di dalam sangkar itu
Dulunya adalah seorang filosof
Konon kata orang dia juga seorang ahli hukum
Bertahun-tahun dalam hidupnya dia telah dengan gigih
Mengajarkan kejujuran dan keadilan bagi rakyatnya
Hingga, setelah melalui perjalanan yang panjang

Dia sampai di satu tikungan berbukit batu.
Ia teramat letih.
Dan seseorang pun datang
Membisikkan sesuatu kepadanya

Kemudian, mereka menghilang di balik tikungan itu
Lama sekali tak ada kabar tentang sang filosof
Gema suaranya pun sudah menghilang
Sampai suatu hari orang-orang mulai mendengar cerita

Tentang burung-burung beo yang tinggal dalam sangkar emas
Gemuk-gemuk dan sangat manja, tapi sangat pendendam
Konon, seekor diantaranya adalah filosof itu
Kini, bila anakku Hukla Inna Alyssa mendengar

Orang-orang bicara lembut penuh petunjuk dan ajaran
Segera saja ia menutup kedua telinganya
Dan menatap dengan jelas kemudian wajahnya pucat pasi
Melihat banyaknya burung-burung beo menyamar jadi filosof

“Selamat jalan kekasih, bapak, kakak, guru dan sang inspirator budaya, aku merasa kehilangan dirimu, tapi engkau telah menepati sebuah perjanjian dengan-Nya dan itu telah engkau laksanakan, selamat jalan guru “ tutup Robin saat diminta kata terakhirnya. ( Rangga )

About the Author

- Aktivis Perjuangan tanpa henti masyarakat Sukaraja, Sukalarang, Kebonpedes dan Cireunghas (Susukecir)

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>