Published On: Sen, Apr 4th, 2016

LEICESTER: HEMPASKAN ANGGAPAN FORMASI 4-4-2 TELAH USANG

LEICESTER (SP) Liga inggris adalah salah satu liga terbesar di benua biru (Eropa). Berbagai Klub besar dan kaya menghuni organisasi sepakbola di negeri Ratu Elizabeth tersebut, seperti Manchester United dan klub sekotanya Manchester City, Chelsea dan Klub sekotanya Arsenal, Liverpool, dll. Namun yang paling tidak disangka dimusim ini adalah prestasi yang ditorehkan tim yang dijuluki “The Blue Foxes” (Rubah Biru) Leicester City.

Anak-anak asuh pelatih kebangsaan Italia, Claudio Ranieri tersebut mampu memuncaki klasemen liga Inggris yang terkenal dengan kompetisi ketat tersebut. Meskipun “Si rubah” masih memiliki 6 pertandingan lagi, namun tidak bisa dipungkiri tim ini punya kans besar untuk finish di urutan satu dan berhasil menjuarai liga Inggris. Saat ini Leicester berada di puncak klasemen dengan nilai 69 dari 32 pertandingan yang telah dijalani dan terpaut 7 angka diatas urutan kedua, Tottenham Hotspurs, dan sebelas angka diatas Arsenal diposisi ketiga.

Apa Dibalik Rahasia Kesuksesan Mereka?

Dalam Sepak bola modern, faktor terbesar dalam permainan adalah kekompakan tim itu sendiri. Ranieri menyebutkan bahwa Ia hanya mengganti susunan pemain sekitar satu dua kali di musim ini. Hal ini ia lakukan untuk menjaga stabilitas tim dan kekompakan tim dilapangan.

“Performa mereka (Leicester) dilapangan adalah indikasi dari “semangat fantastis” dari skuad ini. Mereka mencoba mencetak gol dan bertahan dari serangan lawan secara bersamaan.” Ujar pelatih 64 tahun tersebut dikutip dari Leicester City FC official website.

Praktis, Leicester bermain dengan formasi yang mengandalkan pertahanan sempurna (all-out defense) dan serangan balik cepat melalui sayap dan gelandangnya. Ranieri mampu merubah anggapan formasi 4-4-2 sebagai formasi usang dan kuno. Dalam setiap pertandingan, Leicester tidak terlalu menguasai bola selama mungkin. Mereka hanya mendapat sekitar 40 persen dari total ball possession (Penguasaan bola). Hal ini dikarenakan Leicester menarik gelandang dan satu penyerangnya kebawah pertahanan untuk membantu mengamankan daerah pertahanan mereka. Dengan pressure yang tinggi, lawan kesulitan dalam membongkar lini pertahanan mereka dan segera setelah bola diambil alih, anak asuh Ranieri dengan cepat mengambil serangan balik dengan Vardy atau Okazaki sebagai tumpuan.

Bukan hanya mengandalkan penyerang mereka, Leicester juga memanfaatkan bola-bola mati seperti tendangan sudut dan tendangan bebas untuk diberikan pada bek mereka Morgan dan Huth yang cukup tinggi dan handal dalam sundulan, karena penyerang mereka tidak terlalu tinggi. Selama ini anggapan bermain sepakbola adalah keindahan dengan satu dua sentuhan bukan menjadi jaminan tim mendapat hasil maksimal. Karena bukan permainan bagus yang memberi trofi tetapi gol dan kemenanganlah yang memberikan trofi.

“Kita ingin menang dan kita menang, sekarang kita harus lebih solid dan mempertahankan keunggulan di lapangan” Ujar Ranieri usai menundukkan Southampton 1-0 melalui gol semata wayang Morgan.

4-4-2 Formasi Yang Kuno?

Dalam sepakbola modern, formasi awal yang sering digunakan adalah 4-5-1 yang mengandalkan banyaknya lini tengah untuk membongkar lini pertahanan lawan dan 4-3-3 yang sering diandalkan klub asal Catalan Barcelona. Namun catatan lain menyebutkan formasi kuno tidaklah sepenuhnya buruk. Hal ini mampu diperlihatkan Kesebelasan asal italia Juventus yang mengandalkan 3-5-2 yang terkenal sekitar tahun 80-an namun mampu menjuarai liga italia beberapa musim kebelakang.

Tidak ubahnya dengan 3-5-2 yang sudah usang, 4-4-2 pun sudah lama tidak digunakan karena kurangnya suplai bola akibat tidak adanya pengatur serangan di lini tengah yang mampu menyuplai bola ke sayap maupun langsung pada penyerang. Tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Leicester, karena salah satu penyerang mereka yakni Okazaki bisa menjadi gelandang serang pada saat bertahan dan dengan serangan balik, sayap dan lini tengah mereka maju membantu lini serang mereka.

Dalam setiap pertandingan, Leicester tidak terlalu lama-lama menguasai bola, mereka langsung memanfaatkan momentum memegang bola dengan serangan balik langsung. Hal yang paling penting dari formasi ini adalah pertahanan mereka yang solid dan lini tengah mereka yang meng-cover setiap lini tengah lawan. Ia juga memanfaatkan filosofinya sebagai pemilik bar pizza, bahwa sepakbola sepertihalnya pizza, perlu bumbu yang benar.

“Apa yang kami lakukan adalah seperti halnya sebuah pizza. Untuk bermain dengan benar, kita memerlukan bumbu yang benar pula. Bumbu yang paling utama adalah semangat para pemain, kedua adalah mereka senang ketika berlatih; mereka tahu mereka mampu bekerja sekeras mungkin, namun juga mereka harus santai dalam bermain. Dan juga hal kecil yang disebut keberuntungan, karena kerja keras itu harus, namun seperti halnya garam sebagai bumbu pizza, keberuntungan kecil sangatlah baik.” Kata Ranieri yang juga sebagai pemilik rumah makan pizza ini.

Ketika disinggung tentang timnya, ia menyebutkan “mereka seperti halnya sebuah tomat, tanpa tomat, tidak ada pizza.” (Pajar)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>