Published On: Sel, Jun 9th, 2015

KEWAJIBAN PEMIMPIN MEMBERIKAN RASA ADIL BAGI RAKYATNYA

Share This
Tags

PEMIMPINSUKABUMI POS (Syiar Agama) – Setiap pemimpin berkewajiban menegakan keadilan, memberantas kezaliman, menerapkan hukum  secara berkeadilan, memperhatikan hak dan kewajiban Rakyat  yang di pimpinnya, barangkali inilah sosok pemimpin yang di idamkan seluruh rakyat di Negeri yang dicintainya. Tugas pemimpin memang berat dan harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah Swt, apakah ketika menjadi seorang pemimpinnya itu benar-benar memberikan kasih sayangnya kepada rakyat atau sebaliknya malah menyakiti rakyat dengan memperkaya diri sendiri.

Ada ilustrasi kisah yang harus menjadi Tarbiyah buat para pemimpin, ketika seorang pemimpin yang arid sedang berkeliling mengitari wilayah kepemimpinannya. Tiba-tiba seorang penduduk menghampirinya dengan terburu-buru dan mengadu kepadanya. “ Wahai pemimpinku, aku telah di dzalimi,katanya. “ Apa yg telah terjadi ? Tanya pemimpin itu. Lelaki tua itu lalu berkata, “seseorang telah merampas milikku. Orang itu sangat kuat sehingga aku sangat takut untuk mengambil kembali milikku. Aku ingin kau mengambil kembali milikku dari orang kuat itu, ujar lelaki tua itu meminta tolong kepada sang pemimpinnya.

Pemimpin yang arid itu lalu mengikuti langkah si lelaki tua dan menghampirui orang yg di tunjuk olehnya sebagai orang yg merampas hak. Orang berwajah seram dan berbadan besar  itu tahu bahwa sang pemimpin kota telah menghampiri dirinya. Ia tidak berani membantah ketika sang pemimpin menyuruhnya mengembalikan milik si lelaki tua tadi. Dia lalu mengembalikannya kepada si lelaki tua. Namun sepeninggal sang pemimpin, orang itu menampar lelaki tua dengan kasar. “ Rasakan pembalasanku”, ujar lelaki kekar itu dengan marah.

Lelaki tua mengaduh kesakitan, “mengapa kau menamparku?” “sebab kau sudah mengadu dan membuatku malu”, teriak si lelaki kekar dan berbadan besar itu. Tamparan serta suara mengaduh lelaki tua itu terdengar oleh sang pemimpin. Bergegas sang pemimpin kembali ke tempat tersebut. “ Apa yang terjadi?” Tanya sang pemimpin sambil memandang lelaki tua. Lelaki tua itu kembali mengadu kepada sang pemimpinnya, “orang ini telah menamparku kembali.”

“Kalau begitu balas tamparannya,” kata sang pemimpin itu sambil menatap wajah lelaki tua. Lelaki tua menjawab,”tidak perlu pemimpinku, aku sudah memaafkannya,” Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, dia tidak hanya berani melakukan itu sebab khawatir sepeninggal  sang pemimpin, dia akan diperlakukan kasar oleh orang berbadan besar dan wajah seram itu. “Biarlah aku sudah memaafkannya,” kata si lelaki tua dengan nada lirih.

Tiba-tiba sang pemimpin menampar si lelaki berbadan besar tersebut, plaak…..’ LELAKI KEKAR ITU TERSUNGKUR KE TANAH. Sebagai pemimpin, ia peka bahwa lelaki tua itu tidak ikhlas mengucapkan kata maaf dan dia merasa harus menegakan keadilan bagi si lelaki tua. “ Wahai pemimpin yang arif, bagaimana mungkin kau memamparku sedangkan dia sudah memaafkan aku,” tegas orang kekar itu tidak mengerti. Dia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan tamparan dari pemimpinnya yang terkenal arif dan bijaksana.

“Meskipun lelaki tua itu sudah memaafkanmu, tamparan ini harus tetap di lakukan sebagai tuntutan hukum, ini adalah hak seorang pemimpin dalam menegakan hukum dan keadilan,” (SYIAR)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>