Published On: Sen, Mar 6th, 2017

Jasprem Tidak Mengenal Siber

Sukabumi POS

            Jasa Preman alias pelaku Pungutan tidak resmi (Pungli), bagi para pelakunya tidak mengenal Siber (Sikat Bersih Pungutan Liar-red). Siber, itu sendiri diciptakan pihak berwenang, namun pada keyataannya sangat memprihatinkan dan menghantui para pedagang yang menempati jalan disekitar pintu Kereta Api Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ungkap H.Rachmat, sebagai pedagang kelapa dan warungnasi, ketika bincang-bincang dengan  wartawan SKU Koran Progresif Jakarta, Sabtu baru lalu (4/3), didampingi Umi Entin, Mamah Salma dan Ujang Roip . “Andaikan diantara para pedagang tidak membayar, dipastikan kios atau warungnya diobrak-abrik sama “DG”, katanya.

Menurut H.Rachmat, memang sih nilainya cukup besar yang dikutipnya setiap Sabtu kami diwajibkan membayar Rp.10.000/pedagang atau kios, yang koordinir saya sendiri. Selama beberapa hari ini saya tidak lagi melakukan penagihan, karena lagi sibuk pulang kampung mengurus panen padi di Sagaranten, dan ada pihak lain yang melakukan penagihan mungkin atas petunjuk “DG”, tapi  Sabtu ini, tiba tiba  ada pengendara motor dengan mengenakan vet, dan jaket birunya “Pak Haji gimana, uang  Jasprem itu udah terkumpul belum?, saat itu juga saya sarankan, cobalah sama anda melakukan penagihannya, ke para pedagang mereka pasti mengerti dan mau bayar,  saya lagi ada tamu dulu dari media cetak. Jawab pengendara, kalau sama saya tidak mungkin mau bayar”, lanjutnya.

Dihadapan wartawan H.Rachmat dan Pengendara motor sempat adu argumentasi, untuk melakukan penagihan. Sama pak haji aja, kalau sama saya mah tidak akan dapat uangnya.  Coba saja sama anda dulu. Sama saya aja sebelumnya bisa dan behasil. Mendengar penjelasan haji sipengadara mau melakukan perintah Haji, kalaupun penagihannya tidak memuaskan dan tidak maksimal, hanya mendapat Rp.100.000 saja padahal disekitar jalan rel kereta api itu terdapat puluhan pedagang mungkin sudah mencapai ratusan. Mungkin juga, puluhan pedagang lainnya sudah memahami dan mengerti apa itu “SIBER”, sehingga bertahan tidak mau bayar pungutan yang tidak resmi itu alias tidk jelas peruntukkannya, ah saya mah tinggal kasih tau sama preman “DG” itu, ujarnya pada wartawan.

Ketika wartawan menyarankan untuk melaporkan ke pihak berwenang atau ke Pelaksana Tugas Siber Pungli, yang telah disumpah dan diangkat oleh Walikota Sukabumi, untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan jujur, nampaknya para pedagang sungkan dan tidak mau perkara ini berkepanjangan. Hanya saja, tutur sejumlah pedagang lainnya, oknum petugas itu lebih mengerti, kalau hari ini tidak bayar jangan dipaksa untuk bayar. Karena kami juga punya kewajiban untuk memberikan nafkah anak dan isteri, sangat disayangkan oknum “DG” kalau tidak membayar setiap Hari Sabtu Rp.10.000 kami dianggap punya utang, hal itu kami tidak terima. Pasalnya, yang nama dagang belum tentu pendapatannya sama dengan  kemarin, ucap mereka mengeluh.

            Untuk memuaskan perlakuan yang tidak wajar dari oknum “DG”, sehingga para pedagang lainnya berpendapat, “jangan jangan oknum petugas pungli itu memang diperintah oleh oknum aparat tertentu, soalnya “DG” nampak tidak ada kekhawatiran pada dirinya, ia berusaha terus agar sekuruh pedangan atau kios yang mendiami dan berjualan dipinggir Rel Kereta Api tersebut, harus membayar kewajibannya”, ucapnya lagi.(MAY/AMH)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>