Published On: Sel, Okt 20th, 2015

BUSER POLDA JABAR GADUNGAN MERANGKAP WARTAWAN DAN LSM

Selain mengaku Tim Buser Polda Jabar, dalam aksi penipuannya, komplotan Har juga merangkap sebagai wartawan dan aktifis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Bahkan salah satu diantaranya yang berinisial RA, ternyata Ketua LSN Paser Travost yang beralamat di Kabupaten Subang.

Komplotan ini selama ini sangat meresahkan masyarakat Indramayu dan Subang. Pada saat beraksi, mereka mengaku sebagai Buser Polda Jabar, wartawan dan aktifis LSM.
“Itu bisa kita lihat dari identitas pada saat mereka kami periksa. Ada yang juga mengaku sebagai wartawan, ada juga yang malah sebagai Ketua LSM. Komplotan ini kerjanya mencari kesalahan orang untuk dijadikan bahan pemerasan,” tutur Kapolres Indramayu, AKBP Wijonarko.
Seperti diketahui, sebanyak sembilan orang yang mengaku sebagai anggota buru sergap (buser) dari Polda Jawa Barat dibekuk petugas Reskrim Polres Indramayu, Senin (19/10/2015).   Mereka  masing-masing, HR warga Kelurahan Pasirkerambi, Kecamatan/Kabupaten Subang, SR, warga Bantarwaru, Gantar, Indramayu, DL, asal Kelurahan/Kecamatan Sukamelang,  Subang, OSS dan NG warga Desa/Kecamatan Cibogo, Subang. Kemudian Sury, warga Tanjungkerta, Kroya, Indramayu, Sur, warga Bugis,  Anjatan, Indramayu, RA Warga Desa/Kecamatan Ciater, Subang, serta AAS, warga Cidadap, Pegaden, Subang.
Menyusul penangkapan itu, polisi mengamankan barang bukti satu unit mobil minibus yang digunakan sebagai alat kejahatan. Mereka juga melengkapi dengan dua pucuk pistol mainan, tujuh unit HP, uang tunai Rp 10 juta, lima ID Card, serta satu buah KTA wartawan.
Komplotan itu digulung tak lama setelah menyamar sebagai Buser Polda Jabar dan merazia warung yang diduga menjual minuman keras. Pemilik warung bernama Adi Nurhaedi, warga Desa Tanjungkerta, Kecamatan Kroya, Indramayu.
Setelah dirazia, Adi sempat diangkut naik mobil komplotan itu dengan alas an mau dijebloskan ke penjara di Polda Jabar di Bandung. Di tengah jalan, komplotan itu minta agar Adi menyerahkan uang Rp 25 juta supaya tidak ditahan.
Saat itu, Adi terpaksa menelefon istrinya, bernama Tati untuk segera menyediakan uang. Namun istrinya hanya memiliki uang Rp 10 juta. Uang itu disepekati komplotan itu sebagai uang muka untuk kompensasi agar Adi tidak ditahan.
Aksi itu terungkap setelah Adi menelefon Polres Indramayu untuk menanyakan keberadaan Buser Polda Jabar tersebut. Setelah konfirmasi ke Polda Jabar, jajaran Reskrim Polres Indramayu segera menghadang komplotan Har. Karena tidak bisa menunjukan kartu anggota Polda Jabar, Hard an komplotannya digelandang ke Mapolres.
“Kami konfirmasi ke Polda Jabar soal operasi tim buser, ternyata tidak ada kegiatan di Indramayu. Dari situ kami memastikan komplotan itu polisi gadungan,” tutur Kapolres Wijonarko. (sumber/galamedia)

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>